Tradisi


TRADISI NGEDEBLAG

 
Ngedeblag adalah suatu acara suci (sakral) yang diwarisi dari generasi terdahulu (Bali mula) yang berada di desa Pakraman Kemenuh, Kecamatan Sukawati, kabupaten Gianyar, Bali. Dalam ritual ini penduduk Kemenuh melakukan ritual keagamaan terkait dengan diawalinya sasih (bulan) kelima Kalendar Bali dengan menghaturkan pakeling (memberitahu kepada Tuhan) dengan serana upakara (banten) di semua pura Kahyangan Tiga dan Kahyangan Alit.

Tujuan ngedeblag ialah memohon keselamatan alam Bhwana Agung Lan Buana Alit (alam dan seisinya), karena di bulan sasih kelima kalendar Bali sering terjadi penyakit yang disebarkan oleh virus yang kita tidak tahu asal muasalnya dan maka dari itulah kita memohon kepada Ida Hyang Widhi Wasa untuk diberkati keselamatan dan juga terjadi cuaca buruk (pancaroba), seperti hujan, angin kencang, panas yang menyengat (susah tidur). Untuk itulah mereka mengadakan ritual ngedeblag dan mengadakan persembahan upakara khusus di pakeraman yaitu caru di setiap lebuh angkul-angkul warga adat di setiap pertemuan hari dengan panca wara yang disebut kajang keliwon, menghaturkan sesajen caru alit dengan berbagai upakara dan tirta caru yang sebelumnya telah dimohonkan di Pura Dalem Agung sebelum acara ngedeblag dimulai.

Ngedeblag dilakukan dengan berbagai macam persiapan:

  1. anak-anak umur 5-10 tahun membawa papah jaka simbol hutan
  2. anak-anak umur 10-17 tahun membawa kukul dari bambu
  3. masyarakat dewasa membawa alat yang bisa dibunyikan, gong lanang, besi, terompet. Semua laki-laki mengenakan perhiasan yang seram dan menakutkan, seperti semua pengiring Ida Ratu Agung (Barong Landung). Sedangkan perempuan membawa upakara yang dihaturkan di Pura Dalem dan di setiap catus peta.

Prosesi ngedeblag dimulai pukul 12.00 (siang hari, sandi kala) waktu tenget. Masyarakat mengawalinya dengan melakukan sembahyang bersama dan dipercikkan tirta, gong, kulkul, dan alat-alat yang lain dibunyikan gemuruh. Ida Ratu Tedum diawali dengan batang pohon jaka yang dibawa oleh anak-anak, diikuti oleh semua kelengkapan ngedeblag yang diikuti oleh semua masyarakat pakraman Kemenuh dengan sukacita untuk memohon keselamatan lahir dan batin.

 

TRADISI NGELUNGAANG

Tradisi Ngelungaang diadakan di Banjar Medahan, sebanyak 3 kali dalam 6 sasih (6 bulan Bali = 210 hari).

  1. Pertama: kamis keliwon menail
  2. Kedua: sabtu keliwon wayang
  3. Ketiga: kamis keliwon warigadean

Makna dan tujuan tradisi ini ialah untuk menetralisir hal-hal negatif serta roh-roh jahat yang bergentayangan di seluruh wilayah banjar. Pelaksanaan tradisi ini melibatkan seluruh penduduk banjar Medahan, baik laki-laki, perempuan, anak-anak ataupun orang dewasa. Dalam acara ini semua simbol Tuhan (barong, rangda, pretina) diusung ke seluruh wilayah, dengan diiringi bleganjur dan berbagai peralatan dengan bunyi-bunyian. Penduduk turut melakukan persembahan di setiap depan/gapura rumahnya masing-masing. Acara ini dimulai kurang lebih dari pukul 09:30 sampai 13:30.



UPACARA NGABEN

Ngaben adalah upacara pembakaran mayat yang dilakukan umat Hindu di Bali sebagai ungkapan rasa hormat kepada orang yang sudah meninggal. Tujuan ngaben ialah mengembalikan roh leluhur ke tempat asal. Upacara ini dilakukan dengan meriah, tanpa ada isak tangis yang dianggap dapat menghambat perjalanan arwah menuju ke tempatnya.

Jenazah terlebih dahulu dimandikan, dengan dipimpin oleh sesepuh masyarakat, setelah itu dikenakan pakaian adat Bali. Setelah persiapan selesai, jenazah ditempatkan di ‘Bade’ (keranda) yang ditempatkan di dalam ‘lembu’ atau ‘wadah’ terbuat dari kertas dan kayu, lalu diusung ke tempat pelaksanaan ngaben, diiringi gamelan dan kidung suci oleh seluruh keluarga dan masyarakat. Setelah itu, ‘lembu’ akan dibakar sampai menjadi abu, lalu abu tersebut dibuang ke laut atau sungai yang dianggap suci.